PT.DI (Dirgantara Indonesia) adalah sebuah perusahaan dirgantara milik Indonesia yang didirikan pada 26 April 1976 dengan Bj. Habibie sebagai presiden direkturnya. PTDI ketika didirikan bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio, kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara pada 11 Oktober 1985. Kemudian PTDI menjadi nama resmi perusahaan dirgantara ini pada 24 Agustus 2000. Namun sangat di sayangkan ketika krisis ekonomi yang menimpa Indonesia, perusahaan ini mengalami kemunduran, mulai dari pemangkasan tenaga kerja, ketidak mampuan membayar kompensasi dan pensiunan mantan karyawannya, ahirnya PTDI dinyatakan pailit pada 4 september oleh pengadilan niaga. Secerca harapan muncul ketika keputusan pailit itu di batalkan pada 24 Oktober 2007, secara perlahan perusahaan ini mencoba bangkit dari keterpurukan. (Sumber:Wikipedia)
Ada hal yang sedikit menggelitik dan mengharukan ketika menyimak pidato presiden kita pada acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-18 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis 29 Agustus 2013. Apa sebenarnya hal yang presiden sampaikan sehingga membuat jari jemari saya (blogger) ingin penumpahkan buah pemikiran ke dalam bentuk tulisan dalam blog ini ?? Ya, bagi yang hadir, menyimak, maupun sekedar melihat berita di media cetak maupun elektronik mungkin tau apa yang bapak presiden sampaikan dalam pidatonya. Jika di lihat dari momentum acara di mana pidato itu di sampaikan, kita bisa membayangkan bahwa presiden akan memberikan pidato berkaitan dengan perkembangan teknologi yang berkembang khususnya di Indonesia, kemudian mungkin bapak presiden akan mendorong agar bangsa kita terus mengembangkan dan menciptakan inovasi dalam perkembangan teknologi agar bangsi ini bisa di sejajarkan dengan negara maju dan kita semakin bangga terhadap bangsa sendiri, bangga terhadap karya anak negeri dan bangga menjadi indonesia.
Ada hal yang sedikit menggelitik dan mengharukan ketika menyimak pidato presiden kita pada acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-18 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis 29 Agustus 2013. Apa sebenarnya hal yang presiden sampaikan sehingga membuat jari jemari saya (blogger) ingin penumpahkan buah pemikiran ke dalam bentuk tulisan dalam blog ini ?? Ya, bagi yang hadir, menyimak, maupun sekedar melihat berita di media cetak maupun elektronik mungkin tau apa yang bapak presiden sampaikan dalam pidatonya. Jika di lihat dari momentum acara di mana pidato itu di sampaikan, kita bisa membayangkan bahwa presiden akan memberikan pidato berkaitan dengan perkembangan teknologi yang berkembang khususnya di Indonesia, kemudian mungkin bapak presiden akan mendorong agar bangsa kita terus mengembangkan dan menciptakan inovasi dalam perkembangan teknologi agar bangsi ini bisa di sejajarkan dengan negara maju dan kita semakin bangga terhadap bangsa sendiri, bangga terhadap karya anak negeri dan bangga menjadi indonesia.
Tidak meleset perkiraan kita tentang isi pidato bapak presiden, dalam acara peringatan hari Kebangkitan Teknologi Nasional, presiden mangingatkan agar bangsa Indonesia memprioritaskan penggunaan produksi dalam negeri dalam memperkuat alutsista yang diikuti dengan pameran produk alutsista buatan dalam negeri. Sepintas dan di lihat dari sisi seremonial pidato bapak begitu luar biasa, begitu tegas, yakin dan pasti bapak menyampaikan bahwa kita wajib menggunakan produksi dalam negeri. Lalu di mana salahnya dengan pidato bapak ?
Tidak ada yang salah dengan pidato yang di sampaikan, tetapi menggelitik disini ketika kita di gembar gemborkan tentang bela tanah air secara ekonomi, cinta tanah air secara ekonomi, semangat menggunakan segala produk dalam negeri di berbagai lini tetapi tidak lama lagi kita akan mempunyai pesawat kepresidenan yang kita beli dari Boeing, sebuah perusahaan dirgantara milik Amerika yang di minta untuk membuatkan pesawat kepresidenan untuk Indonesia senilai US$ 91 juta atau kurang lebih Rp 864 miliar. Tidak ada yang salah ketika seorang kepala negara memerlukan fasilitas untuk menunjang segala aktifitas dan pekerjaannya sebagai kepala negara yang pasti memiliki mobilisasi yang tinggi dalam misi diplomasinya. Tetapi akan menjadi kebingungan berbagai pihak ketika pengeluaran yang begitu besar di gunakan dalam kondisi sekarang. Mungkin saya (blogger) tidak perlu menjelaskan lebih detail kondisi sekarang seperti apa yang di maksud, krisis ekonomi, kemiskinan, hutang luar negeri. dan permasalahan lain yang banyak menguras energi bangsa ini.
Bila bapak bisa lebih konsisten seperti isi pidato yang disampaikan dalam acara peringatan hari Kebangkitan Teknologi Nasional, mengapa tidak di aplikasikan ketika pemerintah memerlukan pesawat kepresidenan dengan menghidupkan kembali PTDI, perusahaan dirgantara kebanggaan bangsa sendiri yang selama ini mati suri (berharap hanya mati suri dan kita tunggu bersama kebangkitannya) agar bisa hidup kembali. Kita yakin PTDI bisa, tetapi kita juga tidak bermaksud merasa hebat dengan mensejajarkan PTDI dengan Boeing atau Sukhoi. Tetapi ada sifat bela negara dalam hal ini, ada pembuktian berkaitan dengan cinta tanah air dan cinta produksi dalam negeri. Kita yakin dan percaya PTDI mampu untuk bangkit jika di dukung berbagai pihak terutama pemerintah sebagai pemegang segala kebijakan.
Tidak ada yang salah dengan pidato yang di sampaikan, tetapi menggelitik disini ketika kita di gembar gemborkan tentang bela tanah air secara ekonomi, cinta tanah air secara ekonomi, semangat menggunakan segala produk dalam negeri di berbagai lini tetapi tidak lama lagi kita akan mempunyai pesawat kepresidenan yang kita beli dari Boeing, sebuah perusahaan dirgantara milik Amerika yang di minta untuk membuatkan pesawat kepresidenan untuk Indonesia senilai US$ 91 juta atau kurang lebih Rp 864 miliar. Tidak ada yang salah ketika seorang kepala negara memerlukan fasilitas untuk menunjang segala aktifitas dan pekerjaannya sebagai kepala negara yang pasti memiliki mobilisasi yang tinggi dalam misi diplomasinya. Tetapi akan menjadi kebingungan berbagai pihak ketika pengeluaran yang begitu besar di gunakan dalam kondisi sekarang. Mungkin saya (blogger) tidak perlu menjelaskan lebih detail kondisi sekarang seperti apa yang di maksud, krisis ekonomi, kemiskinan, hutang luar negeri. dan permasalahan lain yang banyak menguras energi bangsa ini.
Bila bapak bisa lebih konsisten seperti isi pidato yang disampaikan dalam acara peringatan hari Kebangkitan Teknologi Nasional, mengapa tidak di aplikasikan ketika pemerintah memerlukan pesawat kepresidenan dengan menghidupkan kembali PTDI, perusahaan dirgantara kebanggaan bangsa sendiri yang selama ini mati suri (berharap hanya mati suri dan kita tunggu bersama kebangkitannya) agar bisa hidup kembali. Kita yakin PTDI bisa, tetapi kita juga tidak bermaksud merasa hebat dengan mensejajarkan PTDI dengan Boeing atau Sukhoi. Tetapi ada sifat bela negara dalam hal ini, ada pembuktian berkaitan dengan cinta tanah air dan cinta produksi dalam negeri. Kita yakin dan percaya PTDI mampu untuk bangkit jika di dukung berbagai pihak terutama pemerintah sebagai pemegang segala kebijakan.
Berharap kita dapat membuktikan tindakan nyata dalam mencintai tanah air ini, berharap ada perubahan dan perbaikan pola fikir dari mulai individu, masyarakat, hingga pemerintah tentang bagaimana kita mempertahankan kedaulatan baik secara sosial, ekonomi, dan budaya yang mana semakin hari semakin menipis dan luntur. Berharap segera bangun dari mati suri wahai PTDI.
